Jatim
Umbul Dungo Sasi Suro, Keluarga dan Warga Bersatu Mengenang Mbah Roekoen Rekso Mulyo

SURABAYA, Bebas.co.id
Nuansa khidmat dan kental akan budaya Jawa mewarnai penyelenggaraan Umbul Dungo yang dirangkai dengan Tabuhan Gayeng Gayengan Sasi Suro di kawasan Simo Kalangan, Surabaya. Kegiatan yang digelar keluarga besar almarhum Mbah Roekoen Rekso Mulyo ini menjadi momentum untuk mengenang sosok yang semasa hidup dikenal mencintai kesenian tradisional sekaligus menjaga nilai-nilai kebersamaan dalam masyarakat.
Tidak sekadar menjadi pertunjukan budaya, rangkaian acara tersebut sarat dengan makna spiritual. Umbul Dungo menjadi inti kegiatan sebagai bentuk doa bersama yang dipersembahkan untuk almarhum Mbah Roekoen Rekso Mulyo, agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Suasana semakin semarak dengan hadirnya Tabuhan Gayeng Gayengan Sasi Suro yang menampilkan kekayaan seni tradisional Jawa. Irama gamelan yang bertalu-talu berpadu dengan nuansa khas tayuban dan pertunjukan Reog, menghadirkan suasana penuh kehangatan sekaligus penghormatan terhadap warisan budaya leluhur.
Agus Mulyo, SH, salah satu keturunan Mbah Roekoen Rekso Mulyo, menjelaskan bahwa tabuhan tersebut dihadirkan sebagai tenger atau penanda untuk mengenang kecintaan almarhum terhadap musik tayuban semasa hidupnya.
“Semasa hidup, Mbah Roekoen sangat menyukai musik tayuban. Karena itu, keluarga menghadirkan Tabuhan Gayeng Gayengan Sasi Suro sebagai tenger atau pengingat akan kecintaan beliau terhadap seni tayuban. Namun yang paling utama adalah Umbul Dungo, yaitu doa yang kami persembahkan untuk almarhum,” ujar Agus.
Menurutnya, keluarga berharap doa-doa yang dipanjatkan bersama dapat menjadi amal yang terus mengalir bagi almarhum. Selain itu, mereka memohon agar Allah SWT mengampuni segala khilaf, menerima amal ibadahnya, serta menempatkannya di tempat yang mulia.
Bagi keluarga besar, kegiatan tersebut juga menjadi bentuk bakti dan penghormatan kepada sosok Mbah Roekoen Rekso Mulyo yang dikenal dekat dengan keluarga serta memiliki kepedulian besar terhadap pelestarian budaya tradisional Jawa.
“Melalui kegiatan ini kami ingin mengenang beliau dengan cara yang beliau sukai semasa hidup. Tabuhan tayuban menjadi simbol kenangan, sedangkan Umbul Dungo menjadi doa yang kami panjatkan bersama. Semoga almarhum diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan kerukunan serta keberkahan,” tuturnya.
Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang acara berlangsung. Selain menjadi ruang untuk mendoakan almarhum, kegiatan tersebut juga menjadi ajang silaturahmi yang mempertemukan keluarga besar, kerabat, sahabat, serta warga sekitar dalam suasana penuh kebersamaan.
Momentum bulan Suro yang sarat nilai spiritual dan budaya menjadikan kegiatan ini memiliki makna tersendiri. Melalui seni tradisional yang ditampilkan dan doa yang dipanjatkan bersama, keluarga berharap nilai-nilai yang diwariskan Mbah Roekoen Rekso Mulyo tetap hidup, mengakar, dan terus menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.
Dengan semangat “dari rakyat untuk rakyat”, Tabuhan Gayeng Gayengan Sasi Suro menjadi bukti bahwa tradisi, doa, dan kebersamaan dapat berjalan beriringan sebagai wujud penghormatan kepada leluhur sekaligus upaya menjaga warisan budaya agar tetap lestari sepanjang masa. (Har)
