Jatim
Bangunan Irigasi Mangkrak, Petani Minta Aparat Hukum Usut Dugaan Korupsinya
MAGETAN, BEBAS – Proyek fisik dan infratruktur bangunan saluran air atau irigasi milik dinas Pertanian Magetan di Desa Jeruk dikeluhkan petani.
Pasalnya, irigasi ini tidak bisa dimanfaatkan oleh petani untuk mengairi sawah dikarenakan kering, selain itu bangunan irigasi ini tidak terhubung ke sumber air dan tidak ada petugas juru air yang mengatur suplay air ke lahan pertanian.
Akibatnya bangunan irigasi ini terkesan mangkrak dan menjadi sarang tikus yang sekarang menyerang lahan pertanian warga.
Informasi yang diterima wartawan BEBAS, belumnya kelompok petani telah mengajukan proposal agar dibuatkan sumber air untuk mengaliri lahan pertanian.
Namun proposal warga ditolak, sebagai gantinya Dinas Pertanian Megatan membuat bangunan irigrasi namun tidak diselesaikan atau dibiarkan mangkrak bertahun-tahun.
Pihak warga meminta meminta kepada aparat penegak hukum agar mengusut dugaan korupsi proyek irigrasi yang sudah mangkrak bertahun-tahun ini.
“Bangunan itu di buat tidak ada manfaatnya sama sekali alias buang – buang dana, padahal dana itu yang bersumber dari APBN/APBD Daerah, yang berasal juga dari pajak rakyat. Kami minta aparat penegak hukum mengusutnya,” pinta salah satu petani yang enggan disebutkan namanya ini.

Suwarno( 51) Petani asal dari Kec Karangrejo Magetan Jatim Indonesia
Sementara menurut Suwarno (52) anggota kelompok tani di Kec Karangrejo Magetan mengatakan, ia berkeluh kesah adanya bangunan DAM pembagi air yang dekat sumur pompa miliknya, pasalnya banunan itu tidak berpungsi sama sekali, “percuma di buat di situ, wong gak ada gunanya,” tandasnya.
Di tambahkan, bangunan milik kantor Dinas Pertanian Magetan saluran menuju sawah sepertinya dipaksakan untuk menghambur hamburkan menghabiskan dana penerintah.
“Sebaliknya usulan pembangunan untuk irigasi dari Desa Desa yang lewat Proposal diabikan alias di tolak. Namun kami diberikan bangunan yang mangkrak,” ucapnya.
Di tempat terpisah Wawan, Petani warga Desa Jeruk Kec Kartoharjo Magetaan ini kepada wartawan BEBAS mengatakan bangunan irigasi yang mangkrak ini justru sangat mengganggu para petani.
“Bangunan itu menjadi sarang rumahnya tikus, buktinya saat petani ‘nyebar’ membuat bibit winih semua habis di makan tikus hingga tinggal brambutnya saja,” ungkapnya
“Kami minta kepada pemerintah turun tangan untuk memberi obat obatan terutama obat tikus dan benih dan harga pupuk murah, biar petani tidak menjerit,” tandasnya.

Kusnun (57) ketua Gerakan Petani Nusantara Magetan Jatim Indonesia.
Sementara, Kusnun (56) sebagai Ketua Gerakan Petani Nusantara (GPN) melihat kasus, ia mengakui bahwa setiap hari banyak petani yang datang kerumahnya mengadu dengan banyaknya tikus tikus itu untuk cara membunuhnya, masalahnya saat ini sedang musim tanam, “petani sedih nyebar gabah buat wineh sore paginya habis dimakan tikus,” ungkapnya
Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan Magetan, Ir Uswatul Khasanah saat di hubungi lewat WA tidak membalas dan hingga birita ini ditayangkan tidak ada jawaban sama sekali. (tar)
