Jatim
FK UNUSA Mengajak Para Santri Lebih Peduli Kesehatan Jiwa Sebagai Bagian Menyeruh

SURABAYA, Bebas.co.id,
Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental di lingkungan pondok pesantren menjadi perhatian khusus Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (FK UNUSA). Melalui kegiatan pengabdian masyarakat bertema “Integrasi Peran Medis dan Spiritualitas Islam dalam Kesehatan Santri di Pondok Pesantren,” FK UNUSA mengajak para santri untuk lebih peduli terhadap kesehatan jiwa sebagai bagian tak terpisahkan dari kesehatan secara menyeluruh.
Kegiatan ini berlangsung di aula Pondok Pesantren Hidayatullah Al-Muhajirin, Bangkalan, dan diikuti 30 santri dan santriwati sebagai peserta utama dalam sesi penyuluhan. Suasana hangat dan antusias sudah terasa sejak pagi, diawali dengan pembukaan serta sambutan dari pihak FK UNUSA dan pengasuh pondok pesantren.
Dosen Fakultas Kedokteran UNUSA, dr. Nur Azizah AS, dr., Sp.KJ, dalam sambutannya menekankan pentingnya pendekatan holistik yang memadukan pengetahuan medis dan ajaran Islam. Menurutnya, kesehatan mental tak hanya soal medis semata, melainkan juga erat kaitannya dengan spiritualitas. “Santri kerap menghadapi tekanan akademik, masalah pribadi, atau dinamika lingkungan pesantren. Dengan pendekatan medis yang diperkaya nilai-nilai keagamaan, diharapkan santri lebih memahami pentingnya merawat kesehatan jiwa,” tuturnya.
Sesi penyuluhan menjadi inti dari kegiatan ini, disampaikan secara interaktif agar para santri terlibat aktif melalui tanya jawab dan diskusi terbuka. Materi yang dibahas mencakup pengenalan kesehatan mental, faktor-faktor pemicu stres, serta potensi dampak negatif jika gangguan mental tidak ditangani dengan baik. Para peserta juga diajak mengenali tanda-tanda awal gangguan mental dan pentingnya segera mencari pertolongan profesional.
Tak kalah penting, penyuluhan ini juga mengangkat sudut pandang Islam dalam memaknai kesehatan mental. Dijelaskan bahwa praktik ibadah seperti shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan berdoa bukan hanya ritual keagamaan, melainkan juga sarana untuk menjaga ketenangan batin. Namun demikian, dr. Nur Azizah mengingatkan bahwa pendekatan spiritual perlu tetap diimbangi pendampingan medis, terutama jika seseorang mengalami gangguan mental yang berat. “Keduanya saling melengkapi. Islam mengajarkan kita untuk berikhtiar, termasuk berobat jika sakit, baik sakit fisik maupun jiwa,” ujarnya.
Selain penyuluhan, kegiatan ini juga menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi para santri dan pengasuh pondok pesantren. Sebanyak 48 santri dan 15 pengasuh memanfaatkan pemeriksaan yang meliputi cek berat badan dan tinggi badan, tekanan darah, gula darah, serta konsultasi kesehatan langsung bersama tim medis FK UNUSA. Bagi peserta yang memerlukan, tim juga memberikan obat-obatan gratis sesuai hasil pemeriksaan.
Para peserta pun terlihat antusias. Salah satu santri peserta mengaku kegiatan ini membuatnya lebih paham pentingnya menjaga kesehatan mental. “Biasanya kami hanya fokus belajar, kadang tidak sadar kalau sedang stres atau tertekan. Tapi setelah ikut penyuluhan ini, jadi tahu pentingnya menjaga pikiran juga, bukan cuma fisik,” ungkapnya.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini diakhiri dengan harapan agar kerja sama antara FK UNUSA dan Pondok Pesantren Hidayatullah Al-Muhajirin dapat terus berlanjut. Dr. Nur Azizah menegaskan, program seperti ini diharapkan mampu menghapus stigma negatif seputar gangguan jiwa dan menjadikan pesantren sebagai lingkungan yang mendukung kesehatan mental para santri. “Pesantren tidak hanya tempat mendidik akhlak dan spiritualitas, tetapi juga membentuk jiwa yang sehat dan kuat,” pungkasnya.
Dengan kolaborasi ilmu kedokteran dan nilai-nilai Islam, FK UNUSA optimistis pesantren dapat menjadi pionir dalam menciptakan generasi santri yang tidak hanya cerdas secara spiritual, tetapi juga tangguh secara mental.
HARIFIN
